Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan

Durian Organik pake Nasa

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 02 Juli 2011



Dengan teknologi dari NASA, panen durian tidak lagi bijian tapi sudah puluhan biji.
Pupuk yang digunakan antara lain : SUPERNASA, POWER NUTRITION, HORMONIK dan METILAT.
More about → Durian Organik pake Nasa

Mari Duduk Bersama Dan Membuka Hati

Diposting oleh Unknown on Selasa, 02 November 2010

Pertanian adalah nadi kehidupan manusia. Di sektor itulah ketersediaan pangan manusia digarap. Di tengah ingar-bingar isu perubahan iklim, dampaknya terhadap pertanian secara langsung akan mengancam kehidupan manusia apabila tak segera disikapi dengan laku adaptif.

Perubahan wajah pertanian Indonesia dapat diamati dari potret pertanian sejak tahun 1970-an hingga sekarang, seperti tertuang dalam buku Membaca Jejak Perubahan Iklim (Civil Society Forum, 2009).

Pertanian yang semula dihidupi oleh sentuhan local genius (kearifan lokal) secara perlahan tapi pasti bergeser cirinya seiring perkembangan ekonomi Indonesia yang ”menjeratkan diri” pada tatanan global.

Pertanian yang semula banyak diurus oleh rakyat dengan tatanan kulturalnya sendiri, pada tahun 1970-an mulai diperkenalkan pada sentuhan modernisasi yang berpuncak pada Revolusi Hijau. Hasilnya menakjubkan: Indonesia menjadi negara dengan swasembada beras di tahun 1985-1988 (Membaca Jejak Perubahan Iklim, 2009).

Ketika warisan leluhur menghilang, datanglah ”musuh” baru berupa perubahan iklim yang semakin mengguncang keteraturan masa tanam dan berujung pada menurunnya produksi.

Dampak ikutannya adalah mengeringnya lahan pertanian secara luas, yang bisa diikuti dengan ancaman bencana kelaparan yang meluas di Asia, terutama di negara-negara berkembang. (Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability, Intergovernmental Panel on Climate Change 2007).

Salah satu penyebab

Bukan hanya tertimpa dampak perubahan iklim, pertanian sebenarnya merupakan salah satu penyebab perubahan iklim.

Aktivitas pertanian rupanya menyumbang sekitar 20% gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Gas rumah kaca ini bertanggung jawab pada pemanasan global. Adapun pemanasan global bertanggung jawab terhadap perubahan iklim.

Sektor pertanian memproduksi sekitar 50% gas metana (CH) dan 70 % nitro oksida (NO)—dua dari enam gas rumah kaca dari aktivitas manusia (Technologies, Policies and Measures for Mitigating Climate Change, Intergovernmental Panel on Climate Change, November 1996). Dalam percaturan global, pertanian di negara maju yang telah padat teknologi dapat menyumbang pengurangan emisi CO sebanyak 40%. Produksi biofuel dari perkebunan di negara-negara maju dapat memberikan kontribusi sebesar 32%.

Untuk emisi CH, dengan meningkatkan teknologi pertanian padi, negara-negara maju yang diwajibkan mengurangi emisinya (Annex I) bisa mengurangi emisi global CH 5%.

Pengurangan emisi NO dari pertanian di negara maju bisa mencapai 30% jika penggunaan pupuk nitrogen dikurangi atau dilakukan secara lebih efisien.

Berkaca dari hal-hal di atas, yang dituliskan Panel Ahli Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC)—IPCC adalah pihak yang bertanggung jawab secara ilmiah tentang perubahan iklim—Indonesia rasanya tak harus buru-buru menjawab dampak perubahan iklim di sektor pertanian.

Kajian dari berbagai segi: teknis, klimatologis, sosiologis, dan kultural mendesak dilakukan. Untuk itu, semua pemangku kepentingan perlu duduk bersama (tentu) sambil membuka hati....

Artikel di ambil dari : http://www.beonex.co.id/article.php?id=35
More about → Mari Duduk Bersama Dan Membuka Hati

Sekilas Tentang Pupuk Organik

Diposting oleh Unknown on Rabu, 25 Agustus 2010

PUPUK ORGANIK adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara tersedia bagi tanaman. 
Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa PUPUK ORGANIK adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya; nilai C-organik itulah yang menjadi pembeda dengan pupuk anorganik. Bila C-organik rendah dan tidak masuk dalam ketentuan pupuk organik maka diklasifikasikan sebagai pembenah tanah organik. Pembenah tanah atau soil ameliorant menurut SK Mentan adalah bahan-bahan sintesis atau alami, organik atau mineral.
Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota. Kompos merupakan produk pembusukan dari limbah tanaman dan hewan hasil perombakan oleh fungi, aktinomiset, dan cacing tanah. 
Pupuk hijau merupakan keseluruhan tanaman hijau maupun hanya bagian dari tanaman seperti sisa batang dan tunggul akar setelah bagian atas tanaman yang hijau digunakan sebagai pakan ternak. 
Sebagai contoh pupuk hijau ini adalah sisa–sisa tanaman, kacang-kacangan, dan tanaman paku air Azolla. Pupuk kandang merupakan kotoran ternak. Limbah ternak merupakan limbah dari rumah potong berupa tulang-tulang, darah, dan sebagainya. 
Limbah industri yang menggunakan bahan pertanian merupakan limbah berasal dari limbah pabrik gula, limbah pengolahan kelapa sawit, penggilingan padi, limbah bumbu masak, dan sebagainya.
More about → Sekilas Tentang Pupuk Organik